Mitos atau Fakta? Benarkah Mencuci Beras Terlalu Bersih Menghilangkan Nutrisinya?
Pernahkah Anda memperhatikan air cucian beras yang berwarna putih keruh? Bagi sebagian besar orang Indonesia, mencuci beras adalah ritual wajib sebelum memasak.
Baca Juga:
- Sering Dibuang Begitu Saja, Ternyata Biji Pepaya Adalah Obat Alami yang Ampuh!
- Lebih dari Sekadar Anggur Kering: Fakta Menarik di Balik Sebutir Kismis
- Peran Desain dalam Karung Beras, Meningkatkan Nilai Jual!
Ada anggapan bahwa semakin bening air cuciannya, maka semakin bersih dan sehat pula nasi yang akan kita makan. Namun, di balik kebiasaan tersebut, muncul sebuah perdebatan klasik: apakah mencuci beras terlalu bersih justru menghilangkan nutrisi penting di dalamnya?
Mari kita bedah secara mendalam antara mitos, fakta, dan sains di balik kebiasaan dapur yang satu ini.
Fakta: Nutrisi yang Larut dalam Air
Secara ilmiah, jawaban singkatnya adalah ya. Mencuci beras terlalu berlebihan memang dapat menghilangkan sebagian nutrisinya. Beras, terutama beras putih yang sudah melalui proses penyosohan (penggilingan), memiliki kandungan vitamin dan mineral yang sebagian besar berada di lapisan luar bulirnya.
Nutrisi utama yang sering "terbuang" bersama air cucian adalah vitamin B kompleks (khususnya B1 atau tiamin), zat besi, dan beberapa jenis protein permukaan.
Vitamin B1 adalah nutrisi yang larut dalam air. Ketika Anda meremas beras terlalu kuat dan membilasnya berkali-kali hingga airnya benar-benar bening, Anda sebenarnya sedang melarutkan lapisan nutrisi tersebut dan membuangnya ke saluran air.
Mengapa Air Cucian Beras Berwarna Keruh?
Warna putih keruh pada air cucian beras sebenarnya bukan hanya kotoran atau debu, melainkan pati (starch) yang terlepas dari permukaan beras. Pati inilah yang memberikan tekstur lengket pada nasi.
Jika Anda mencuci beras hingga airnya bening, Anda sedang menghilangkan sebagian besar pati permukaan tersebut. Efeknya, nasi yang dihasilkan akan cenderung lebih "pera" atau tidak saling menempel, namun dari sisi gizi, kandungan mikronutrisinya sudah berkurang drastis.
Mitos: Beras Harus Benar-Benar Bening agar Aman
Banyak yang percaya bahwa air yang masih keruh menandakan beras masih kotor atau mengandung pemutih. Faktanya, di era modern ini, sebagian besar beras kemasan sudah melalui proses pembersihan di pabrik.
Mencuci beras 1 hingga 2 kali sebenarnya sudah cukup untuk menghilangkan debu atau sisa kulit padi yang mungkin masih menempel. Mencucinya hingga 5 atau 6 kali hanya karena ingin airnya bening justru kontraproduktif terhadap kesehatan.
Bagaimana dengan Beras yang Diperkaya (Enriched Rice)?
Di beberapa negara atau merek tertentu, tersedia beras yang telah diperkaya dengan tambahan vitamin dan mineral setelah proses penggilingan.
Jika Anda membeli beras jenis ini, mencucinya secara berlebihan sangat tidak disarankan. Bedak nutrisi yang ditambahkan pada permukaan beras akan langsung hilang pada bilasan pertama, sehingga manfaat tambahan yang Anda bayar mahal menjadi sia-sia.
Tips Mencuci Beras yang Bijak
Agar Anda tetap mendapatkan nasi yang bersih namun nutrisinya tetap terjaga, berikut adalah panduan praktisnya:
Cukup 2 Kali Bilas: Bilasan pertama berfungsi membuang debu atau kotoran ringan. Bilasan kedua sudah cukup untuk memastikan kebersihan tanpa menguras habis vitamin B.
Jangan Diremas Terlalu Keras: Cukup aduk pelan dengan tangan. Gesekan antar bulir yang terlalu kuat akan memecah lapisan luar beras yang kaya gizi.
Gunakan Air Dingin: Air dingin lebih lambat melarutkan nutrisi dibandingkan air hangat.
Pertimbangkan Beras Merah atau Cokelat: Jika Anda sangat peduli dengan nutrisi, beralihlah ke beras pecah kulit. Karena lapisan bran (bekatul) masih utuh, nutrisinya tidak mudah hilang meski dicuci.

.png)
0 Response to "Mitos atau Fakta? Benarkah Mencuci Beras Terlalu Bersih Menghilangkan Nutrisinya?"
Posting Komentar