Sabtu, 27 Mei 2017

Pabrik Karung Bagor Roll (Karung Layar)

Karung Plastik (Woven Bags)
Karung plastik/woven bags merupakan kemasan berwujud kantong yang merupakan hasil anyaman berbentuk melingkar (circular weaved Polypropylene). Karung plastik merupakan pengganti karung goni yang semula digunakan untuk mengemas berbagai bahan baku / hasil bumi. Kelebihan karung plastik adalah berbahan ringan dan lebih tahan terhadap air dibandingkan goni. Sejak kemunculannya, karung plastik dalam kurun waktu singkat telah mengambil alih fungsi karung goni dalam berbagai jenis usaha produksi.

Saat ini dalam perkembangannya karung plastik memiliki banyak jenis sesuai penggunaannya, antara lain:
1). Karung Putih Polos
2). Karung Transparan
3). Karung Laminasi (laminating)
4). Karung Kuning atau Cream (daur ulang)
5). Karung Bagor atau Karung Roll.

Karung Bagor/Karung Roll
Karung bagor umumnya berbentuk roll atau layar, dengan berbagai ukuran lebar dan panjang tertentu. Karung bagor pada umunya digunakan untuk packaging/pengepakan barang di pertokoan, toko grosir, industri, ekspedisi, pergudangan, pabrik, mall, dll.

# Baca juga Karung Beras, Karung Laminasi

Kami melayani kebutuhan karung bagor di Surabaya, Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang, Tangerang, Medan, Balikpapan, Makassar, Bali, Manado, Flores, Papua dan seluruh wilayah Indonesia lainnya.

Karung Bagor (Roll atau Layar)
Tersedia 3 macam ukuran:
- karung bagor ukuran 1,2m x 50m   
- karung bagor ukuran 1,2m x 70m 
- karung bagor ukuran 1,2m x 90m 
* Minimal order 20 roll = 1 ball.

LIM CORPORATION menyediakan karung bagor/karung layar dengan harga ekonomis terjangkau. Dapatkan harga karung roll lebih murah disini, karena barang langsung dari pabrik karung plastik. Kami distributor karung plastik, pabrik karung plastik di Surabaya, melayani kebutuhan berbagai jenis karung plastik (woven bags).

Untuk harga karung bagor (karung roll/karung layar) silahkan klik DISINI.
Atau hubungi kami di:
• Phone: 031-8830487
• SMS/WA/Call : 0852 3392 5564 | 0877 0282 1277 | 0877 0282 1277
• Email : limcorporation2009@gmail.com

Senin, 22 Mei 2017

Cara Mengatasi Hama Uret Pada Tanaman Padi


Uret merupakan bahasa Jawa, atau gayas di sebagian Sumatera merupakan sebutan untuk tahap larva dari serangga anggota ordo Coleoptera, terutama suku Scarabaeidae. Uret biasanya ditemukan di sekitar sisa-sisa sampah atau di dalam tanah yang mengandung banyak bahan organik. Beberapa uret juga dapat dijumpai di dalam batang pohon sebagai penggerek batang seperti yang biasa ditemui disebagian tanaman padi para petani di Indoneisa.

Di Indonesia, uret Lepidiota stigma selalu menjadi hama utama pada pertanaman lahan kering, seperti tebu, jagung, sorgum, atau kedelai, maupun pertanaman hortikultura. Sednagkan hama Uret pada tanaman Padi mempunyai ukuran lebih kecil dari Uret Tebu yang panjang kumbangnya  3,5 sampai  5 cm, larvanya berdiameter 1,0 sampai 1,1 cm dengan panjang tubuhnya mencapai 7,5 cm.
Uret yang menyerang tanaman Padi diketahui ada 3 spesies.
1). Exopholis hypoleuca
2). Leucopholis rorida (Imago Exopholis hypoleuca)
3). Phyllophaga helleri.

# Baca juga Hama Pada Tanaman Wijen

Hama uret akan sangat  merugikan pada fase larva karena pada fase ini aktif  menyerang perakaran tanaman padi. Gejala serangan yang ditimbulkan hama uret yaitu tanaman padi terlihat layu dan tanaman padi sangat mudah dicabut karena sebagian atau seluruh akar dimakan oleh hama jenis ini.

Beberapa cara pengendalian hama uret dengan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu memadukan berbagai teknik pengendalian yang disesuaikan kondisi setempat, sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara teknis, ekologis,ekonomis dan sosial dengan cara:

1. Melakukan pengolahan tanah dengan kedalaman 30 Cm sehingga larva yang berdiapause dan kepompong dapat keluar,dikumpulkan serta dimusnahkan sehingga akan mengurangi populasi hama uret. Di samping itu hama uret akan terkena alat pengolah lahan dan kena sinar matahari sehingga akan mati.

2. Penangkapan massal dengan melibatkan semua komponen mulai petani, kelompok tani dan aparat yang terkait. Cara pengendalian ini dilakukan dengan  penangkapan menggunakan perangkap obor yang di bawahnya diberi penampung puthul serta dilakukan pada pukul 18.00-20.00, karena puthul sangat tertarik pada cahaya lampu dan melakukan penerbangan untuk mencari pasangan pada jam-jam tersebut. Gerakan penangkapan puthul dimulai saat musim penghujan pertama yaitu pada kondisi kelembaban yang cukup untuk perkembangan kepompong menjadi puthul. Penangkapan puthul dilakukan serempak, melibatkan semua warga masyarakat, dilakukan hati-hati agar tidak merusak tanaman di sekitarnya, terus-menerus dan kompak.

Obor dipasang di tempat strategis yaitu di ladang atau lapangan. Setelah puthul tertangkap, harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur, di samping dapat juga dipergunakan sebagai makanan. Cara tersebut sangat efektif dan efisien dalam mengendalikan hama uret karena murah dalam pengendalian dan puthul yang tertangkap sangat banyak.

3. Melakukan penggenangan lahan persawahan pada saat banyak hujan dengan membuat pematang untuk menampung air yang ada pada persawahan. Dengan adanya air di persawahan, uret di dalam tanah akan mati. Di samping itu pada lahan persawahan ditaburi kapur.

4. Melakukan budidaya tanaman yang sehat dengan pemupukan mengandung unsur N,P dan K sehingga kondisi tanaman dapat tumbuh dengan baik. Dengan demikian ketahanan tanaman akan kuat sehingga kurang disukai uret.

# Jangan lewatkan Produsen Karung Beras, Karung Laminasi

5. Melakukan pengumpanan pada persawahan dengan mencampur gabah dengan parutan gadung. Menggunakan pestisida nabati, antara lain mahoni, tembakau, daun mindi dan daun mimba.

6. Menggunakan agensia hayati Metharizium sp. untuk mengendalikan uret yang terdapat dalam tanah.

7. Untuk daerah endemis uret, sebaiknya sebelum sebar benih dapat dicampur menggunakan pestisida seed treatment sehingga dapat bertahan selama 1 bulan dalam perakaran. Di samping itu pada pemupukan kedua dilakukan dengan mencampur pestisida sistemik sehingga uret akan mati. Kondisi tersebut didukung adanya air sehingga pupuk dan pestisida sistemik dapat bekerja dengan baik.

Keberhasilan pengendalian hama uret, ditentukan bioekologi dan perilaku hama tersebut. Dengan mengetahui bioekologi dan perilaku, dapat melakukan tindakan pengendalian dengan cara atau teknik yang tepat dan keberhasilan bisa maksimal sehingga kehilangan hasil yang disebabkan hama uret dapat  diminimalkan.

Rabu, 17 Mei 2017

Begini Cara Mengatasi Hama Ulat Grayak Pada Tanaman Padi


Spodoptera adalah ngengat yang termasuk dalam suku Noctuidae. Larvanya yang masih dalam bentuk ulat dikenal sebagai hama yang sangat merusak. Ulat yang tidak berbulu oleh masyarakat awam biasa disebut ulat tentara atau ulat grayak. Di wilayah Indonesia, ulat grayak utama adalah Spodoptera exigua dengan larva berwarna coklat kehijauan dan S. litura dengan larva berwarna coklat. Ulat ini tinggal di bawah permukaan tanah di siang hari dan aktif memakan tajuk tumbuhan di malam hari. Serangannya dapat sangat hebat sehingga dalam waktu semalam dapat menghabiskan suatu pertanaman, dan oleh sebab itu dikenal sebagai "ulat tentara".

Hama ini menyerang tanaman padi di semua stadia. Serangan terjadi biasanya di malam hari sedangkan siang harinya larva ulat grayak bersembunyi di pangkal tanaman, dalam tanah atau di tempat-tempat yang tersembunyi. Seranga ulat ini memakan helai-helai daun dimulai dari ujung daun dan tulang daun utama ditinggalkan sehingga tinggal tanaman padi tanpa helai daun. Di tanaman yang telah membentuk malai, ulat grayak seringkali memotong tangkai malai, bahkan ulat grayak ini juga menyerang padi yang sudah mulai menguning . Batang padi yang mulai menguning itu membusuk dan mati yang akhirnya menyebabkan kegagalan panen. Serangan saat padi menguning atau keluar malai inilah yang sangat merugikan petani.


# Jangan lewatkan Jual Karung Beras, Karung Laminasi Harga Murah

Hama ini mempunyai sifat polyfag memakan semua tanaman sehingga ulat grayak bukan hanya menyerang tanaman padi, tetapi ulat grayak  malah lebih sering menyerang tanaman cabai, bawang merah, dan kedelai. Hama ini dapat menyerang suatu tanaman dengan sangat cepat, bahkan dalam sehari suatu tanaman dapat habis daunnya karena diserang oleh gerombolan ulat grayak. Organisme pengganggu tanaman (OPT) ini menggrogoti bagian daun mulai dari tepi hingga bagian atas atau bawahnya bahkan hingga tersisa epidermisnya saja. Jika daun suatu tanaman rusak, maka tanaman tidak dapat fotosintesis dan tidak dapat meningkatkan produktivitas tanaman tersebut.

Serangga ulat Grayak harus diwasdii karena di waktu siang hari tidak tampak karena biasanya bersembunyi di tempat yang gelap dan didalam tanah, namun di malam hari melakukan serangan yang hebat dan bahkan dapat menyebabkan tanaman padi rusak sehingga menagalami gagal panen, mungkin itulah sebabnya kenapa serangga ini disebut sebagai ulat grayak. Di lahan sawah yang kering sering sekali terserang oleh hama ulat grayak oleh karena itu, untuk pengendalian ulat grayak ini kondisi tanah sawah hendaknya diairi dan perlu pengamatan sejak dini dan lebih awal agar tidak terjadi serangan yang hebat.


# Baca juga Cara Mengatasi Hama Walang Sangit Pada Tanaman Padi

Tindakan engamatan sejak dini dapat dilakukan dengan cara memeriksa apabila ada kupu-kupu atau ngengat serta terlihat adanya telur serangga kita dapat melakukan tindakan dengan cara mekanis yaitu menangkap kupu-kupu dengan menggunakan jaring serta membunuh telur-telur serangga yang dijumpai.

Walaupun umur larva atau ulat grayak ini berkisar 20  sampai 26 hari, namun perlu diwasdai karena larva atau ulat ini dapat menyerang hampir pada semua fase pertumbuhan tanaman termasuk pada tanaman padi di semua stadium pertumbuhan. Setelah usia 20 sampai 26 hari hama ulat ini hidup dan dapat menyerang tanaman, maka hama ini akan berubah menjadi kepompong yang selanjutnya berubah menjadi kupu-kupu. Kupu-kupu bertelur dan setelah usia 4 sampai 5 hari akan menetas menjadi ulat atau larva yang akan siap menyerang tanaman padi.

Rabu, 10 Mei 2017

Cara Mengatasi Hama Walang Sangit Pada Tanaman Padi

Walang sangit merupakan serangga yang menjadi hama penting pada tanaman budidaya, terutama padi. Di Indonesia, serangga ini disebut kungkang untuk daerah Sunda, pianggang untuk daerah Sumatera, dan tenang di pulau Madura. Hama ini mudah dikenali dari bentuknya yang memanjang, berukuran kurang lebih  2 cm, berwarna coklat kelabu, dan memiliki "belalai" untuk menghisap cairan tumbuhan. Walang sangit merupakan anggota ordo Hemiptera atau bangsa kepik sejati.

Hama ini menghisap cairan tanaman dari tangkai bunga dan juga cairan buah padi yang masih pada tahap masak susu sehingga menyebabkan tanaman kekurangan hara dan menguning, dan perlahan-lahan melemah kemudian tanaman padi menjadi mati. Hama ini menunjukkan bentuk pertahanan dirinya dengan cara mengeluarkan aroma yang menyengat hidung sehingga diberi nama "sangit". Sebenarnya tidak hanya walang sangit yang mengeluarkan aroma ini, tetapi juga banyak anggota Alydidae lainnya.

Baca Juga : Perlakuan Masa Panen dan Pasca Panen Buah Semangka

Walang sangit merupakan hama yang umum ada pada setiap musim tanam padi. Hama ini bisa merusak bulir padi pada fase pemasakan. Mekanisme merusak Walang sangit adalah dengan menghisap butiran gabah yang sedang mengisi. Apabila diganggu, serangga Walang sangit ini akan mempertahankan diri dengan mengeluarkan bau kurang sedap. Selain sebagai mekanisme pertahanan diri, bau yang dikeluarkan juga digunakan untuk menarik walang sangit lain dari spesies yang sama. Walang sangit bisa merusak tanaman ketika mencapai fase berbunga sampai matang susu buah tanaman padi. Hingga saat ini belum ada varietas padi yang tahan terhadap hama walang sangit.

Berdasarkan cara hidup walang sangit, tanam serempak dalam satu hamparan merupakan cara pengendalian yang sangat dianjurkan. Setelah ada tanaman padi berbunga, walang sangit akan segera pindah dari rumput-rumputan atau tanaman sekitar sawah ke pertanaman padi yang pertama kali berbunga. Sehingga jika pertanaman tidak serempak pertanaman yang berbunga paling awal akan diserang lebih dahulu dan tempat berkembang biak . Pertanaman yang paling lambat tanam akan menbisakan serangan yang relatif lebih berat karena walang sangit sudah berkembang biak pada pertanaman yang berbunga lebih dahulu. Dianjurkan beda tanam dalam satu hamparan tidak lebih dari 2,5 bulan.

Tanaman padi yang terserang hama ini akan mengalami kerusakan berupa beras berubah warna dan mengapur, serta gabah menjadi hampa.
Hama ini bisa dikendalikan melalui beberapa langkah, seperti:
1.    mengendalikan gulma, baik yang ada di sawah maupun yang ada di sekitar pertanaman;
2.    meratakan lahan dengan baik dan memupuk tanaman secara merata agar tanaman tumbuh seragam;
3.    menangkap walang sangit dengan menggunakan jaring sebelum stadia pembungaan;
4.    mengumpan walang sangit dengan ikan yang sudah busuk, claging yang sudah rusak, atau dengan kotoran ayam;
5.    menggunakan insektisida bila diperlukan dan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari ketika walang sangit berada di kanopi.

Jangan Terlewatkan : Yang Jarang Diketahui Manfaat Beras Hitam, Beras Merah, dan Beras Putih

Salah satu akibat serangan hama serangga Walang sangit ini, beras akan mengalami perubahan warna dan mengapur. Dengan demikian pencegahan yang bisa dilakukan setelah tanaman padi terserang hama walang sangit merupakan bisa menggunakan beberapa jenis insektisida (bila diperlukan) antara lain, yang berbahan aktif seperti :
1.    BPMC dengan nama dagang Bassa, Kiltop, dan Baycard
2.    Fipronil dengan nama dagang Regent
3.    Metolkarb dengan nama dagang Rexal
4.    MIPC dengan nama dagang Mipcin, Mikarb, Dharmacin atau
5.    Propoksur dengan nama dagang Poksindo.
6.    Siflutrin dengan nama dagang Sniper 50 EC.

Hama Pada Tanaman Wijen


Tanaman Wijen adalah tanaman kebun atau industri yang berbentuk pohon dengan batang lunak, di negara Indonesia tepatnya di daerah jawa barat tanaman wijen juga dikenal dengan nama walir, di wilayah Bali, Gorontalo dan batak mengenal nya dengan nama Lenga, sedangkan di daerah ujung pandang orang biasa menyebutnya Langan, Ringa di Bima, Longa  di daerah Nias Papua.

Ada dua macam wijen yaitu wijen putih dan hitam. Namun w ijin putih lebih diminati banyak orang untuk diolah menjadi makanan. Namun peluang untuk ekspor komoditi ini baik wijen putih maupun hitam memiliki peluang  yang sama. Jika ingin berbudidaya tanaman wijen beberapa pakar lebih menganjurkan untuk menggunakan Varitas unggul yang tahan terhadap gangguan hama yaitu varitas unggul Garati KKO, Marada Putih, Bogor Sutami dan Marada Hitam dan varietas unggul harapan Sesamin doserta Pachequino. Biji buah wijen adalah sumber minyak nabati dengan kadar kandungan asam lemak jenuh yang sangat rendah yang bias dikonsumsi langsung, dalam bentuk minyak atau tepung.

Selain di olah untuk bahan makanan biji wijen juga dibutuhkan untuk bahan dasar industry seperti farmasi, kosmetika, pestisida juga obat-obatan. Biji dan minyak yang dihasilkan dari tanaman wijen, secara tradisional, digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Sedangkan Hama yang biasa ditengarai sering menyerang tanaman wijen adalah termasuk dari golongan serangga.

Mengingat peluang pasar serta manfaatnya yang sangat besar bagi anda yang ingin menanan atau berbudidaya tanaman wijen sangat dianjurkan untuk mengetahui dan mengenal beberapa jenis hama yang biasa menyerang tanaman wijen agar supaya bias mengantisipasi serangan hama tersebut. Karena bagaimanapun mengantisipasi  jauh lebih baik daripada harus mengobati pada saat sudah terjangkit hama.

Baca Juga : Jual Terpal Plastik Kualitas Import China & Korea

Berikut beberapa jenis hama tanaman wijen yang kami rangkum untuk anda sekalian.

Hama yang pertama adalah hewan kepik Hijau, Tubuh hama kepik hijau sesuai namanya memiliki warna hijau dengan bentuk bulat. Hama ini biasanya megganggu tanaman dengan cara mensekresi toksin pada daun tanaman wijen. Selain menyerang daun tanaman, hama kepik hijau juga menyerang polong dan biji sehingga kwalitas biji wijen menjadi rusak. Hama Kepik hijau bertelur secara berkelompok pada daun, dengan kisaran 90 butir pada setiap kelompok. Seekor hama kepik berjenis kelamin betina dapat mengeluarkan telur hingga 1.100 butir telur.

Cara mengendalikan hama ini bias dilakukan secara mekanis yaitu dengan cara memang kas daun yang telah dijadikan sarang untuk bertelur atau nimfa. Selain itu juga bias dengan cara kimia wi yaitu dengan cara penyemprotan cairan insektisida, seperti Dursban 20 EC atauTamaron 200 EC.

Hama yang kedua yang biasa menyerang tanaman wijen adalah Thrips.  Tubuh hama trips berukuran kecil, kurang lebih 1 mm. Di kalangan para petani hama ini dikenal dengan sebutan hama purih karena nimfanya yang berwarnakeputih-putihan. Hama inisering kali dijumpai di bagian ujung daun dan kuncup daun yang usia nya masih sangat muda. Hama ini bias menyebar dan berpindah dari tanaman satu ke tanaman lainnya dengan sangat cepat dengan perantara angin. Ham ini menyerang tanaman wijen di bagian daun dengan mengisap cairan tanaman sehigga daun menjadi kering karena kehabisan cairan sel. Hama ini menyerang tanaman wijen yang masih muda maupun tanaman yang sudah tua. Gangguan pada taraf yang sudah parah dapat menimbulkan kerusakan total sehingga tanaman menjadi mati.

Jangan Sampai Kelewatan : Cara Mudah Menanam Buah Lemon di Pekarangan Rumah
 Serangan yang terjadi pada tanaman yang sudah dewasa bias menimbulkan kerugian yang sangat besar, karena dapat menggagalkan perkembangan bunga yang sedang berproses pembentukan tepung sari sehingga tidak bias membentuk polong dan biji.

Cara mengendalikan hama ini bias dilakukan dengan cara kultur teknis yaitu melalui penanaman dengan tanaman yang bukan se inang, seperti cabai, tomat, kentang, waluh, dan tanaman sayur bayam. Selain dengan cara kultur teknis hamaini juga bias dikendalikan dengan mekanis, yaitu dengan melakukan pemangkasan  daun yang  telah menjadi sarang telur serta nimfanya, setelah itu dikumpulkan disuatu tempat dan dibakar agar telur tidak menetas dan menjadi hama baru. Jika dua cara diatas merasa kurang cukup ada pengendalian secara kimiawi yang dilakukan dengan penyemprotan insektisida, misalnya Sevin % D, Bayrusil 250 EC, Basudin 60 EC, atau tamaron.

Senin, 08 Mei 2017

Cara Mengatasi Hama Wereng Pada Tanaman Padi


Hama ini dikenal dengan nama wereng dan merupakan sebutan yang sudah umum untuk serangga penghisap cairan tumbuhan anggota ordo Hemiptera, subordo Fulgoromorpha, khususnya yang berukuran kecil. Tonggeret pernah digolongkan sebagai wereng namun sekarang telah dipisah secara taksonomi. Karena hidup bergantung pada tumbuhan, sejumlah anggotanya menjadi hama penting dalam budidaya tanaman. Selain sebagai pemakan langsung, wereng juga menjadi vektor bagi penularan sejumlah penyakit tumbuhan penting, khususnya dari kelompok virus.

Saya sering sekali mendengar petani mengeluh. Mereka mengeluh bagaimana cara mengatasi wereng padi . Seperti kita tahu bahwa wereng padi merupakan hama tanaman padi yang klasik dari dulu, dari kita baru lahir sampai kita seperti saat ini. Namun kebanyakan para petani kurang  fokus bagaimana cara membasmi dan memberantas wereng melalui pengobatan, Bukan bagaimana cara pencegahan wereng padi itu menyerang. Sering kita temui beberapa petani hanya mencari untuk mengobati tanaman padi yang terserang wereng tapi sedikit sekali dari mereka yang berfikir bagaimana tanamna padi bisa aman dari serangan wereng itu sendiri.

Membasmi Hama Wereng Padi memakai bahan alami merupakan cara tepat karena tidak membunuh musuh alami wereng, namun saat ini belum ada penelitian yang mempublikasi obat wereng padi yang ampuh. Jadi masih ada kesempatan untuk kita-kita yang muda lebih-lebih yang sudah memiliki title sarjana pertanian untuk menemukan formula yang tepat untuk mencegah tanaman padi dari serangan wereng.

Karena kita semua juga sudah tau bahwa pencegahan itu lebih baik daripada mengobati, sedia payung sebeum hujan. Kata-kata ini memang sangat tepat tetapi petani sudah paham akan hal itu. Ya mungkin secara teknis itu bisa mengurangi dan menghindari hama wereng. Tapi tidak dalam artian suatu saat padi anda tidak lagi kena hama wereng. Bisa saja akan datang lagi.

Seiring perkembangan dunia pertanian, membunuh dan membasmi hama bukan cara terbaik dalam menangani hama pertanian karena dapat membunuh musuh-musuh alami hama tersebut. selain dapat membunuh musuh alami tindakan membasmi dengan obat juga dapat merusak lingkungan dan mempengaruhi terhadap kesuburan tanah itu sendiri. Sehingga beberapa pakar pertanian berusaha melakukan penelitian dan pengamatan yang akhirnya para peneliti tersebut berhasil menemukan dan mencipatakan varietas bibit padi yang tahan terhadap serangan hama wereng.

# Baca juga Cara Mengatasi Serangan Hama Tanaman Padi di Musim Hujan

Sehingga kabar ini sungguh sangat melegakan para petani padi disaat serangan hawa wereng sungguh menjadi masalah utama para petani. Namun bagi tanaman padi yang sudah terlanjur terserang hama dikesempatan kali ini kami ingin berbagai apasaja langkah atau tindakan yang bisa dilakukan untuk mengurangi reskiko atau bahkan memberantas dan menganggulangi wereng tersebut. Tips ini merupakan beberapa langkah yang bisa dilakukan terhadap tanaman yang terserang hama wereng.
1. Bersihkan gulma singgang dari sawah dan areal sekitarnya sampai sangat bersih.
2. Jangan pakai peptisida, jsutru ituakan merusak musuh alami
3. Gunakan varietas tahan wereng seperti Ciherang, Mekongga, dan Cigeulis.
4. Gunakan varietas tahan tungro seperti IR-50, IR-64, Citanduy, Dodokan, IR-66, IR-70, Barumun, kelara, memberamo, IR-36, IR-42, Semeru, Ciliwung , Kr. Aceh, Sadang, Cisokan, Bengawan , Citarum dan terakhir merupakan serayu.

# Jangan lewatkan  Jual Karung Beras, Karung Laminasi 5kg, 10kg, 20kg, dan 25kg

5. Penggunaan pepstisida alami merupakan cara terbaik saat ini karena selain tidak menghilangkan musuh alamid engan wereng. Selai itu juga kita dapat menekan biaya operasional, atau biayanya lebih murah. Bahan-bahan pepstisida alami yang dimaksud bisa anda buat dengan menggunakan biji mahoni atau daun sirsak, rimpang jeringau, dan bawang putih serta sabun colek.

Kamis, 23 Maret 2017

Cara Mengatasi Serangan Hama Tanaman Padi di Musim Hujan

Saat memasuki musim hujan pada tahun ini, para petani mulai pada sibuk mempersiapkan lahan untuk segera mengolah sawah & menanam padi. Petani selalu bersemangat dengan penuh harapan untuk memperoleh hasil panen yang melimpah. kesuksesan dalam usaha pertanian sangat menentukan kwalitas hidup masayarakat petani. Akhir-akhir ini harapan para petani untuk memperoleh hasil panen yang membagakan baik secara kuantitas dan kwalitas sering kandas, sebab dalam prakteknya berbagai hambatan muncul silih berganti. hambatan alam seperti banjir, kekeringan dan juga berkembangnya OPT tak jarang menyebabkan tanaman yang dibudidayakan mengalami puso alias gagal panen. Berbekal dari pengalamam dimusim-musim sebelumnya, diharapkan para petani bisa belajar mengingat irama atau gejolak alam yang sering muncul di lahan pertaniannya. Secara umum di musim hujan hama dan penyakit berkembang lebih pesat dan mengakibatkan kerusakan tanaman lebih parah. Oleh sebab itu, penting diwaspada saati perkembangan OPT utama pada saat di musim hujan ini, apalagi sumber OPT dari musim sebelumnya berkembang dengan intensitas yang tinggi, hal semacam ini diduga sebab terjadi anomali iklim yang ditunjukan dengan musim kemarau basah.

usaha peningkatan produksi padi terus dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan memenuhi kecukupan pangan secara nasional. Namun demimakin, cekaman lingkungan biotik dan abiotik dengan frekuensi yang makin meningkat serta dukungan sumberdaya lahan dan air yang sudah menurun kwalitas dan kuantitasnya, menyebabkan produktivitas padi masih rendah. Perubahan irama iklim yang terjadi makin sulit diramalkan, kondisi seperti ini secara langsung dan tak langsung berdampak pada saat perubahan perilaku organisme yang berkembang di pertanaman padi. Ketidaknormalan iklim ini mengakibatkan juga pada peningkatan gangguan berbagai organisme pada tanaman padi.
Kondisi musim kemarau dengan curah hujan yang masih tinggi membuat peluang besar terhadap berkembangnya organisme pengganggu tumbuhan. Hama wereng batang coklat, penggerek batang padi kuning, dan tikus masih menjadi hama utama, sebab serangannya sering menyebabkan tanaman padi menjadi puso. pada saat musim kemarau 2016 ini menurut pengakuan petani pada Pantura Subang, hama wereng coklat berkembang pesat di beberapa daerah sentra produksi padi pada jalur Pantura dan mengakibatkan produksi padi yang diperoleh hanya berkisar 2,5-4 ton/ha. Hal semacam ini penting diwaspadai oleh petani untuk mempersiapkan pertanaman musim hujan, sebab sumber wereng coklat masih banyak ada pada saat ratun-ratun atau singgang yang tumbuh dari tunggul tanaman padi yang dipanen.

Pada saat di beberapa daerah airnya senantiasa tersedia, petani terus berusaha meningkatkan indeks pertanaman (IP300) yakni dengan menanam padi unggul berumur pendek, sehingga dalam satu tahunnya bisa menanam padi 3 kali. Produksi padi meningkat dengan pola tanam tersebut, akan tetapi pola tanam padi-padi-palawija makin ditinggalkan. Petani tak menyadari bahwa cara budidaya seperti ini membuat makanan bagi serangga hama padi selalu tersedia sepanjang tahun. Apalagi, jika terjadi pada saat hamparan sawah dengan pola tanam yang tak serempak. Kondisi tersebut di atas mendorong peningkatan dengan pesat pojugasi dan serangan hama sebab siklus hidup hama tak putus.

# Jangan lewatkan Cara Budidaya Tanaman Padi Beras Merah

Agroekosistem dan Keseimbangan Alam
Suatu serangga berkembang menjadi hama jika sudah menimbulkan kerusakan yang menyebabkan kerugian. Pergeseran status serangga menjadi hama pada saat rantai kehidupan sangat terkait oleh kegiatan manusia dalam menerapkan praktik teknologi budidaya dalam suatu agroekosistem.  Oleh sebab itu, manusialah yang menempatkan suatu jenis serangga dalam kategori hama, baik secara permanen dan temporal. Manusia menganggap serangga sebagai hama, sebab ada kesamaan kebutuhan antara manusia dan serangga dalam  hal makanan.

Faktor lingkungan juga sangat menentukan keberadaan suatu spesies serangga di tempat tertentu. Selain faktor ketersediaan makanan, hubungan suatu spesies organisme yang satu dengan organisme lainnya juga sangat menentukan kelangsungan hidupnya.  Prinsip ekologi ialah mengatur hubungan atau interaksi antara serangga dengan serangga atau dengan organisme lain dan juga manusia. Perkembangan teknologi yang makin pesat mendorong manusia untuk makin jauh memodifikasi keterkaitan interaksi antar organisme dalam sistem kehidupan dalam lingkup keseimbangan alam pertanian.

Manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dengan sengaja mengubah ekosistem alami menjadi ekosistem baru. Agroekosistem merupakan ekosistem baru yang sengaja diciptakan khusus untuk kepentingan pertanian. Dalam agroekosistem komponennya lebih sederhana, biasanya terdiri dari pojugasi tanaman pertanian seragam (monokultur). Misalnya di sawah hanya ada tanaman padi saja. Sehingga keanekaragaman tanaman dalam agroekosistem sangat kecil, dan interaksi antar species organisme yang menghuninya menjadi sangat sederhana atau tak stabil.  Dengan menyederhanakan ekosistem, tanpa disadari bahwa manusia sebenarnya sudah mengubah keseimbangan alam. Keadaan ini bisa menyebabkan spesies serangga yang cocok dengan lingkungannya bisa bertambah dengan cepat. Serangga tersebut mempunyai tingkat reproduksi yang cepat dengan waktu generasi yang pendek. Sehingga serangga tersebut mempunyai potensi berkembang dalam waktu singkat menjadi pengganggu dengan merusak tanaman budidaya, sebab hilang faktor pengendalinya secara alami.

Pada saat kondisi keseimbangan, suatu serangga sebagai salah satu komponen dalam ekosistem pojugasinya selalu dikendalikan oleh berbagai faktor lingkungan sehingga tak mudah terjadi peledakan pojugasi. pada saat ekosistem alami, secara bersamaan faktor-faktor sebagai komponen lingkungan punya peranan dalam melakukan pengendalian secara alami terhadap suatu serangga. Musuh alami yang umum ialah predator, parasitoid, dan patogen punya peluang besar untuk berkembang.

Program pengendalian suatu hama, umumnya hanya dilakukan penekanan terhadap pojugasi serangga hama saja, belum berdasarkan konsep sistem kehidupan. Pendekatan terhadap sistem kehidupan bisa membantu mengembangkan kerangka pemikiran pengendalian hama yang konsepsional. Rekayasa ekologi dengan meningkatkan keragaman genetik tanaman di sekitar lahan pertanian sangat penting dikembangkan. Berbagai jenis tanaman bisa menyediakan makanan & sebagai reservoir tempat berlindung bagi serangga netral & predator. Keanekaragaman tanaman yang tinggi diharapkan meningkatkan keanegaragaman serangga yang menguntungkan, sehingga bisa menjaga sistem keseimbangan secara alami.

Pengendalian Hama
Pojugasi serangga hama ditekan dengan menggunakan insektisida oleh manusia sudah sejak lama. Seiring dengan berjalannya waktu, makin banyak insektisida yang digunakan di lahan pertanian baik jenis dan dosisnya, namun demimakin kerusakan tanaman akibat serangan hama tak kunjung berhenti.  Banyak jenis insektisida yang beredar di lapangan menyebabkan makin banyak pengaruh samping penggunaan insektisida, seperti:
- Resistensi hama terhadap insektisida.
- Resurgensi hama, dan
- Pencemaran lingkungan.

Resistensi hama terhadap insektisida tertentu merupakan masalah yang sudah umum terjadi di lapangan pertanian. Resistensi juga menyebabkan terjadinya resurgensi, sehingga hama bisa berkembang dengan baik dan pojugasinya bisa berlipat (pest outbreaks). Resistensi merupakan salah satu fenomena evolusi. Serangga hama mengadakan adaptasi agar bisa terus bertahan hidup di lingkungannya walaupun ada tekanan, termasuk penggunaan insektisida. Resistensi serangga hama sudah terjadi, terhadap hampir semua jenis insektisida.  Berdasarkan hal tersebut di atas, penting dikembangkan konsep pengendalian hama yang berlandaskan prinsip-prinsip ekologi misalnya pengendalian hama terpadu (PHT).

Pengendalian Hama Terpadu
Marilah kita bersam-sama mengingat kembali konsep pengendalian hama terpadu (PHT), agar budidaya tanaman pertanian bisa diusahakan secara maksimal dengan tetap menjaga keseimbangan lingkungan. PHT ialah suatu teknik pengendalian hama dengan cara manijugasi agroekosistem secara menyeluruh mempergunakan berbagai jenis teknik pengendalian yang sesuai & dilakukan dengan bijaksana secara terpadu sehingga pojugasi serangga hama bisa ditekan sampai tak merugikan secara ekonomi.  PHT tidak mengandalkan hanya satu cara saja, tetapi dengn mengkombinasikan berbagai macam cara.  Pengendalian cara ini diharapkan seminimal mungkin mengganggu musuh alami dari hewan pengganggu tersebut. Penggunaan insektisida dalam program PHT harus secara selektif.

Sebagai contoh teknologi pengendalian wereng coklat bisa beraneka ragam, bisa disesuaikan dengan komponen pengendali yang ada mulai dari bercocok tanam, pergiliran varietas, manujugasi musuh alami, dan pemilihan insektisida.

# Perbaikan Cara Bercocok Tanam
Beberapa hal yang penting diperhatikan diantaranya ialah:
1. Membersihkan lingkungan dari sisa-sisa tanaman musim sebelumnya yang menjadi sumber  penyakit atau hama.
2. Penanaman dilakukan tepat waktu, dikombinasikan dengan perkiraan datangnya hama, atau monitoring hama dengan lampu perangkap.
3. Tanam secara serempak, sangat berguna untuk mengurangi kelimpahan hama.  Dalam satu hamparan tak ada tanaman yang mendahului sebab biasanya menjadi sumber penularan hama.
4. Tanam dalam barisan yang teratur, untuk memperlancar gerakan angin dan cahaya matahari masuk dalam pertanaman.  Sehingga bisa meniadakan iklim mikro yang cocok untuk perkembangan serangga hama.
5. Menanam berbagai tanaman penghasil nektar di sekitar sawah, sebagai makanan bagi serangga netral dan predator.

# Pergiliran Varietas
Penggunaan varietas tahan merupakan cara pengendalian yang paling murah & mudah diterapkan. Penggunaan varietas tahan pada umumnya kompatibel dengan cara pengendalian yang lain. Penggunaan varietas yang sama & tak diketahui tingkat ketahanannya terhadap suatu OPT secara terus menerus, bisa mendorong terjadinya perubahan sifat biologi OPT setempat sehingga dengan cepat bisa meningkatkan kerentanan tanaman itu sendiri. Sutu varietas yang ditanam tanpa henti 4 - 5 musim bisa patah ketahanannya. Penanaman yang multi varietas bisa menghambat proses perkembangan biotipe baru wereng coklat. Biotipe wereng yang berkembang sebagai hasil dari tekanan genetik di lapangan dan merupakan suatu proses yang mendekati seleksi alam.

Pergiliran varietas antar musim  penting dilakukan hal semacam ini berhubungan dengan sifat dari wereng coklat yang mudah beradaptasi dengan varietas yang baru dilepas. Varietas tahan yang terus menerus ditanam secara luas, akan berdampak makin lama akan kian mudah terserang wereng coklat dengan berusaha membentuk biotipe yang baru. Biotipe yang baru  pada umumnya lebih sulit untuk dikendalikan. Jadi hendaknya untuk secara bergiliran bervariasi berbagai varietas dalam menanam padi.

# Penggunaan Insektisida
Perlu diketahui, insektisida yang dianjurkan untuk pengendalian wereng pada saat tanaman padi menurut Inpres No. 3. 1986, ialah senyawa pengatur pertumbuhan  buprofezin, BPMC, MIPC, serta karbofuran. Dari hasil penelitian terakhir sebaiknya menggunakan insektisida fipronil yang berdaya tangkal rangkap untuk mengendalikan wereng coklat dan penggerek, sedangkan imidakropid sangat baik untuk mengendalikan wereng hijau dan wereng coklat. Insektisida-insektisida ini belum dilaporkan menimbulkan efek resurgensi pada saat hama wereng. pada saat pada saat ada serangan wereng coklat tak diperbolehkan menggunakan insektisida yang dilarang.

Dalam mengendalikan wereng secara efektif dipentingkan adanya pengsangatan atau peramalan perkembangan pojugasi wereng coklat sesudah wereng imigran datang di pertanaman dan berkembang menurunkan generasinya. Di wilayah Indonesia  ambang ekonomi wereng coklat terbaru berdasarkan kajian analisis ekonomi harus didasarkan pada saat 3 fase pertumbuhan tanaman padi. Aplikasi insektisida yang direkomendasikan dilakukan jika wereng coklat 3-5 ekor/rumpun pada saat padi umur kurang dari 20 hari sesudah tanam (HST),  atau 5-9 ekor/rumpun pada saat padi umur 20-40 HST, atau jumlah wereng 10-20 ekor/rumpun pada saat padi umur lebih dari 40HST.

Teknologi budidaya seperti tersebut di atas bersifat praktis, murah, dan juga mudah diterapkan. Pertanaman yang dirancang dengan teknik budidaya berdasar pada saat konsep ekologi mempunyai peluang kesuksesan yang besar dalam mengendalikan perkembangan hama.  Pojugasi hama yang berkembang sedikit berdampak pada saat penggunakan insektisida berkurang.
# Baca juga Produsen Karung Beras, Karung Laminasi

(Sumber: http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id)